Selasa, 29 Maret 2016

jurnal sosiologi pendidikan Islam



INTERAKSI dan KOMUNITAS dalam KELUARGA
Siska Dwi Agustin
Mahasiswi IAIN Tulungagung, Jln Mayor Sujadi Timur 46 Tulungagung,
Jurusan Pendidikan Agama Islam 3F
Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan

Abstrak
Tujuan penelitian ini adalah untuk menguraikan tentang interaksi dan komunitas dalam keluarga. Metode yang digunakan dalam penulisan studi ini adalah kepustakaan. Data primer diperoleh dari pembacaan buku-buku mutakhir. Kajian dilakukan pada bulan Desember 2015. Pada tahap awal, penulis berupaya mengumpulkan materi dari berbagai teori tentang interaksi dan komunitas dalam keluarga, kemudian disusun dalam bentuk naskah teks yang siap dibahas. Berdasarkan hasil pengumpulan materi dan buku-buku, kemudian naskah kajian dilengkapi. Hasil akhirnya naskah kajian difinalisasi dan siap dipublikasikan dalam sekala yang lebih luas. Berdasarkan hasil naskah kajian disimpulkan bahwa: (1) interaksi adalah hubungan timbal balik antar individu, individu dengan kelompok, dan kelompok dengan kelompok lainnya. merupakan hubungan-hubungan sosial yang menyangkut hubungan antarindividu, individu (seseorang) dengan kelompok, dan kelompok dengan kelompok. (2) Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan. (3) Interaksi dan komunikasi dalam keluarga akan saling mempengaruhi satu dengan yang lain dan saling memberikan stimulus dan respons sehingga proses interaksi di dalam keluarga menjadikan seorang anak secara bertahap belajar mengembangkan kemampuan nalar serta imajinasinya. (4) Komunitas sebagai sebuah kelompok sosial dari beberapa organisme yang berbagi lingkungan, umumnya memiliki ketertarikan dan habitat yang sama. (5) Keluarga sebagai unit sosial terkecil dalam masyarakat merupakan lingkungan budaya pertama dan utama dalam rangka menanamkan norma dan mengembangkan berbagai kebiasaan dan perilaku yang dianggap penting bagi kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat.

Kata Kunci: Interaksi, Keluarga, Komunitas

Pendahuluan
Interaksi yaitu hubungan timbal balik atau aksi dan reaksi diantara orang-orang, dengan demikian interaksi ini adalah kontak dan komunikasi diantara sesama. Sedangkan komunikasi merupakan aspek sentral dalam hubungan antar manusia (Monty P. Satiadarma, 2001: 95).
Pencapaian tujuan pendidikan nasional tidak terlepas dari peran serta orang tua atau keluarga. Keluarga sebagai bagian dari struktur sosial setiap masyarakat adalah salah satu unsur sosial yang paling awal mendapat dampak dari setiap perubahan sosial budaya.
Hubungan yang terjadi di dalam keluarga biasanya dilakukan melalui suatu kontak sosial dan komunikasi. Kedua hal ini merupakan syarat terjadinya suatu interaksi sosial. Dengan kata lain, interaksi yang sesungguhnya dapat diperoleh melalui kontak sosial dan komunikasi. Terjadinya interaksi dan komunikasi dalam keluarga akan saling mempengaruhi satu dengan yang lain dan saling memberikan stimulus dan respons. Dengan interaksi antara anak dengan orang tua, akan membentuk gambaran-gambaran tertentu pada masing-masing pihak sebagai hasil dari komunikasi.
Kelompok social atau komunitas juga memilki sebuah peranan dalam pembentukan norma dalam masyarakat. Dalam kelompok akan terjadi interaksi di mana saat salah satu anggota kelompok melakukan kesalahan maka anggota kelompok yang lainnya akan menilai baik-buruknya perilku tersebut.
Keluarga sebagai salah satu jenis kelompok social atau disebut dengan primary group merupakan salah satu kelompok di mana norma-norma itu dibentuk. Dengan adanya pembentukan norma dalam keluarga maka akan membentuk pula norma bagi anggota kelompok yang akan ia aplikasikan ke dalam masyarakat.Sehingga dalam keluarga akan terjadi sebuah interaksi dimana ada norma yang mengatur dalam keluarga. Baik itu terhadapa ayah, ibu dan anak-anak. Interaksi yang intens dan dekat ini akhirnya bisa membentuk kepribadian dari masing-masing keluarga.
Metode Penulisan
Metode yang digunakan dalam penulisan studi ini adalah kepustakaan. Data primer diperoleh dari pembacaan buku-buku mutakhir. Kajian dilakukan pada bulan Desember 2015. Pada tahap awal, penulis berupaya mengumpulkan materi dari berbagai teori tentang interaksi dan komunitas dalam keluarga, kemudian disusun dalam bentuk naskah teks yang siap dibahas. Berdasarkan hasil pengumpulan materi dan buku-buku, kemudian naskah kajian diperbaiki. Hasil akhirnya naskah kajian difinalisasi dan siap dipublikasikan dalam sekala yang lebih luas.

Hasil Kajian dan Pembahasan
Pengertian Interaksi
            Interaksi yaitu hubungan timbal balik atau aksi dan reaksi diantara orang-orang, dengan demikian interaksi ini adalah adanya kontak dan komunikasi diantara sesama (Miftahul Huda, 2008: 38). Kecenderungan manusia untuk berhubungan dengan yang lain melahirkan komunikasi dua arah baik melalui bahasa dan tindakan atau perbuatan karena ada aksi, maka reaksipun terjadi dan inilah unsur yang membentuk interaksi.
            Interaksi juga diartikan yaitu pengaruh timbal balik atau saling mempengaruhi satu sama lain, yang minimal terjadi antara dua pihak (Suwarna, 2005: 93). Dalam bukunya Sardirman mengemukakan: Interaksi akan selalu terkait dengan istilah komunikasi atau hubungan. Dalam proses komunikasi, dikenal adanya unsur komunikan dan komunikator. Hubungan antara komunikator dengan komunikan biasanya karena menginteraksikan sesuatu yang dikenal dengan istilah pesan (message). Kemudian untuk menyampaikan atau mengontakkan pesan itu diperlukan adanya media atau saluran (channel). Jadi unsur-unsur yang terlibat dalam komunikasi itu adalah: komunikator, komunikan, pesan dan saluran atau media. Begitu juga hubungan antara manusia yang lain, empat unsur untuk terjadinya proses komunikasi itu akan selalu ada (Sardirman, 2004: 7)
Syarat-Syarat Terjadinya Interaksi:
1.      Kontak sosial
Kontak sosial tidak hanya dengan bersentuhan fisik, seperti berkomunikasi secara langsung/tatap muka, berdiskusi, bermain dan lain sebagainya.


2.      Komunikasi sosial
Dengan perkembangan teknologi manusia dapat berhubungan tanpa bersentuhan, tanpa bertemu langsung. Misalnya  melalui telepon, telegrap dan lain-lain.
            Bisa disimpulkan bahwa interaksi adalah hubungan timbal balik antar individu, individu dengan kelompok, dan kelompok dengan kelompok lainnya. merupakan hubungan-hubungan sosial yang menyangkut hubungan antarindividu, individu (seseorang) dengan kelompok, dan kelompok dengan kelompok.

Hakikat Keluarga
Keluarga (bahasa Sanskerta: "kulawarga"; "ras" dan "warga" yang berarti "anggota") adalah lingkungan yang terdapat beberapa orang yang masih memiliki hubungan darah. Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan.
Ada beberapa jenis keluarga, yakni:
1.       Keluarga inti, yang terdiri dari suami, istri, dan anak.
2.       Keluarga konjugal, yang terdiri dari pasangan dewasa (ibu dan ayah) dan anak mereka yang terdapat interaksi dengan kerabat dari salah satu atau dua pihak orang tua.
3.       Keluarga luas, yang ditarik atas dasar garis keturunan di atas keluarga aslinya. Keluarga luas meliputi hubungan antara paman, bibi, keluarga kakek, dan keluarga nenek.
Keluarga inti atau disebut juga dengan keluarga batih ialah yang terdiri atas ayah, ibu, dan anak. Keluarga inti merupakan bagian dari lembaga sosial yang ada pada masyarakat. Bagi masyarakat primitif yang mata pencahariaannya adalah berburu dan bertani, keluarga sudah merupakan struktur yang cukup memadai untuk menangani produksi dan konsumsi. Keluarga merupakan lembaga sosial dasar dari mana semua lembaga lainnya berkembang karena kebudayaan yang makin kompleks menjadikan lembaga-lembaga itu penting (Paul B. Horton, 1987: 266)
Berbagai peranan yang terdapat di dalam keluarga adalah sebagai berikut : 
1.      Peranan Ayah : Ayah sebagai suami dari istri dan anak-anak, berperan sebagai pencari nafkah, pendidik, pelindung dan pemberi rasa aman, sebagai kepala keluarga, sebagai anggota dari kelompok sosialnya serta sebagai anggota dari kelompok sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya.
2.      Peranan Ibu : Sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya, ibu mempunyai peranan untuk mengurus rumah tangga, sebagai pengasuh dan pendidik anak-anaknya, pelindung dan sebagai salah satu kelompok dari peranan sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya, disamping itu juga ibu dapat berperan sebagai pencari nafkah tambahan dalam keluarganya. 
3.      Peran Anak : Anak-anak melaksanakan peranan psikosial sesuai dengan tingkat perkembangannya baik fisik, mental, sosial, dan spiritual.

Interaksi dalam Keluarga
            Di dalam keluarga anak-anak mulai menerima pendidikan yang pertama dan paling utama. Pendidikan yang diterima oleh anak mulai dari pendidikan agama, cara bergaul, dan hubungan interaksi dengan lingkungan. Keluarga merupakan lingkungan sosial yang pertama bagi anak. Dalam lingkungan keluargalah anak mulai mengadakan persepsi, baik mengenai hal-hal yang ada di luar dirinya, maupun mengenai dirinya sendiri.
Keluarga adalah sumber kepribadian seseorang. Di dalam keluarga dapat ditemukan berbagai elemen dasar yang membentuk kepribadian seseorang. Aspek genetika diperoleh seseorang dari dalam keluarga. Demikian pula aspek bawaan dan belajar dipengaruhi oleh proses yang berlangsung dan sistem yang berlaku di dalam keluarga. Kondisi ibu pada saat mengandung akan mempengaruhi janin dan selanjutnya akan berpengaruh terhadap pembentukan kepribadian seorang anak. Sistem pembagian peran dan tugas di dalam keluarga juga akan memberi dampak besar pada proses perkembangan kepribadian seorang anak.
            Tak dapat disangkal bahwa keluarga merupakan tempat pertama bagi anak untuk belajar berinteraksi sosial. Melalui keluargalah anak belajar berespons terhadap masyarakat dan beradaptasi di tengah kehidupan masyarakatnya yang lebih luas kelak. Melalui proses interaksi di dalam keluarga, seorang anak secara bertahap belajar mengembangkan kemampuan nalar serta imajinasinya. Hal ini selanjutnya akan mempengaruhi kemampuan kognitif anak dalam menghadapi kehidupan pada tahapan-tahapan perkembangan berikutnya. Melalui pemahaman nilai-nilai kehidupan yang ditanamkan oleh anggota keluarga, kemampuan persepsi seorang anak akan diarahkan khusus ke dalam bidang-bidang tertentu. Perhatian mereka terhadap hal-hal yang ada di sekeklilingnya banyak dipengaruhi oleh nilai-nilai yang mereka anut, dan keluargalah yang menanamkan nilai-nilai tersebut (Monty P. Satiadarma, 2001: 121-122).
Terjadinya interaksi dan komunikasi dalam keluarga akan saling mempengaruhi satu dengan yang lain dan saling memberikan stimulus dan respons. Dengan interaksi antara anak dengan orang tua, akan membentuk gambaran-gambaran tertentu pada masing-masing pihak sebagai hasil dari komunikasi. Anak akan mempunyai gambaran tertentu mengenai orang tuanya. Dengan adanya gambaran-gambaran tertentu tersebut sebagai hasil persepsinya melalui komunikasi, maka akan terbentuk juga sikap-sikap tertentu dari masing-masing pihak. Bagi orang tua anak sebagai objek sikap, sebaliknya bagi anak orang tua sebagai objek sikap. Pada anak akan terbentuk sikap tertentu terhadap orang tuanya, sebaliknya pada orang tua akan terbentuk sikap tertentu terhadap anaknya.
Anak akan memiliki sikap yang berbeda terhadap orang tuanya. Sebagian anak ada yang mempersepsikan orang tuanya adalah segala-galanya. Tak heran mereka meniru semua perilaku orang tuanya. Namun, sebagian lagi ada yang mempersepsikan orang tuanya sangat kejam, sadis, dan tidak mau mengerti dengan kehendak anak. Dari dua sisi sikap yang berbeda tersebut (positif dan negatif) dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa sikap yang dimiliki oleh para anak akibat dari proses interaksi yang terjadi di dalam keluarga. Bagi keluarga yang mampu mengadakan komunikasi yang baik kepada anak tentu akan memberikan perhatian dan kasih sayang kepada anak, sebaliknya bagi orang tua yang super sibuk dan masa bodoh terhadap perkembangan anak tentu jarang terjadi proses interaksi atau komunikasi dalam keluarga. Dampaknya, anak yang dibesarkan dalam lingkungan orang tua yang tidak komunikatif kemungkinan besar akan mencari bentuk perhatian ke lingkungan lain, misalnyanya: di lingkungan sekolah atau lingkungan teman sebayanya.
Bentuk-Bentuk Interaksi dalam Keluarga:
1.      Interaksi orang tua yaitu suami-istri
Interaksi orang tua yaitu suami istri disini lebih menekankan pada peran penting suami istri sebagai penentu suasana dalam keluarga. Keluarga dengan anggota keluarga (ayah, ibu, anak).
2.      Interaksi orang tua dan anak
Interaksi yang terjalin antara orang tua dan anak dalam satu ikatan keluarga di mana orang tua bertanggung jawab dalam mendidik anaknya. Hubungan yang terjalin antara orang tua dan anak di sini bersifat dua arah, disertai dengan pemahaman bersama terhadap sesuatu hal di mana antara orang tua dan anak berhak menyampaikan pendapat, pikiran, informasi atau nasehat. Hubungan interaksi yang efektif ini terjalin karena adanya rasa keterbukaan, empati, dukungan, perasaan positif, kesamaan antara orang tua dan anak.
3.      Interaksi ayah dan anak
Interaksi disini mengarah pada perlindungan ayah terhadap anak. Peran ayah dalam memberi informasi dan mengarahkan pada hal pengambilan keputusan pada anak yang peran komunikasinya cenderung meminta dan menerima. Misal, memilih sekolah. Interaksi ibu dan anak Lebih bersifat pengasuhan kecenderungan anak untuk berhubungan dengan ibu jika anak merasa kurang sehat, sedih, maka peran ibu lebih menonjol.
4.      Interaksi anak dan anak yang lainnya
Interaski ini terjadi antara anak 1 dengan anak yang lain. Dimana anak yang lebih tua lebih berperan sebagai pembimbing pada anak yang masih muda. Biasanya dipengaruhi oleh tingkatan usia atau faktor kelahiran.
Usaha orang tua dalam membina anak dan membimbing anak baik jiwa maupun raganya sejak lahir sampai dewasa (18 tahun). Selain itu, yang dimaksud dengan  pola asuh adalah kegiatan kompleks yang meliputi banyak perilaku spesifik yang bekerja sendiri atau bersama yang memiliki dampak pada anak.
Keterkaitan antara interaksi dengan pengasuhan anak dalam keluarga terlihat sangat jelas, karena didalam pengasuhan orang tua sering kali mengajak anaknya untuk berkomunikasi, bercengkrama, bersosialaisa dan lain sebagainya. Untuk mejalin hubungan yang baik dengan anak-anaknya orang tua harus mampu meluangkan waktu dengan anak mereka. Karena dengan adanya interaksi anak dan orang tua akan menjadi hubungan yang lebih dekat dan harmonis. Interaksi terjadi karena adanya reaksi, dan adanya reaksi dari orang tua maka anak akan melakukan aksi.
Interaksi pengasuhan pada anak yaitu pola hubungan timbal-balik antara pengasuh/orang tua dan anak yang di asuh. Interaksi atau perilaku seorang anak sangat dipengaruhi oleh pola pengasuhan orang tua, jika pengasuhan orang tua baik maka anak akan menjadi individu yang baik begitupun sebaliknya jika orang tua melakukan pengasuhan yang kurang baik maka anak pun akan tumbuh menjadi individu yang kurang baik.
Tanpa adanya interaksi orang tua dengan anak akan menimbulkan kejenuhan dan kejangguhan antara anak dengan orang tuanya, kurangnya komunikasi antara mereka. Namun disetiap keluarga pastilah terjalin komunikasi antara anak dan orang tua dan anggota lainnya yang saling membutuhkan satu sama lain yang sering melakukan percakapan dan lain sebagainya.        

Komunitas dan Kelompok Sosial
          Kata Komunitas berasal dari bahasa latin communitas yang berasal dari kata dasar communis yang artinya masyarakat, publik atau banyak orang. Wikipedia bahasa Indonesai menjelaskan Pengertian Komunitas sebagai sebuah kelompok sosial dari beberapa organisme yang berbagi lingkungan, umumnya memiliki ketertarikan dan habitat yang sama. Dalam komunitas manusia, individu-individu di dalamnya dapat memiliki maksud, kepercayaan, sumber daya, preferensi, kebutuhan, risiko dan sejumlah kondisi lain yang serupa.
Secara sosiologis pengertian kelompok sosial adalah suatu kumpulan orang-orang yang mempunyai hubungan dan saling berinteraksi satu sama lain dan dapat mengakibatkan tumbuhnya perasaan bersama. Disamping itu terdapat beberapa definisi dari para ahli mengenai kelompok sosial.
Menurut Josep S Roucek dan Roland S Warren kelompok sosial adalah suatu kelompok yang meliputi dua atau lebih manusia, yang diantara mereka terdapat beberapa pola interaksi yang dapat dipahami oleh para anggotanya atau orang lain secara keseluruhan.
Ciri-Ciri Utama Kelompok Sosial (Hendropuspito: 1989):
1.      Terdapat dorongan atau motif yang sama pada individu-individu yang menyebabakan terjadinya interaksi.
2.      Terdapat akibat-akibat interaksi yang berlainan terhadap individu-indvidu.
3.      Pembentukan dan penegasan struktur atau organisasi kelompok yang jelas dan terdiri atas peranan-peranan dan kedudukan hierarkis yang lambat laun berkembang dengan sendirinya.
4.      Terjadinya penegasan dan pengaruh norma-norma pedomanyang mengatur interaksi dan kegiatan anggota kelompok dalam merealisasikan tujuan kelompok.

Peranan Keluarga Sebagai Unit Terkecil Kelompok Social Dalam Pembentukan Norma

Keluarga sebagai unit sosial terkecil dalam masyarakat merupakan lingkungan budaya pertama dan utama dalam rangka menanamkan norma dan mengembangkan berbagai kebiasaan dan perilaku yang dianggap penting bagi kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat.
Pengaruh norma dalam keluarga ini terutama sangat berpengaruh terhadap seorang anak. Hal ini dikarenakan Sejak lahir, seorang anak telah mengalami proses sosialisasi. Artinya, sejak lahir seseorang melakukan proses belajar mengenai bagaimana bertindak dan berperilaku sesuai dengan nilai dan norma norma sosial yang berlaku di dalam masyarakat melalui refleksi terhadap orang lain. Dengan demikian, nilai dan norma tersebut telah menjadi bagian dari dirinya. Ia akan selalu berperilaku atau bertindak sesuai dengan nilai dan norma norma tersebut. Selain itu nilai dan norma sosial juga menjadi bagaimana pola sosialisasi akan berlangsung dalam diri seseorang.
Pada hakikatnya sosialisasi primer dalam keluarga merupakan langkah penting bagi anak dalam beradaptasi dan mempelajari nilai dan norma dalam masyarakat, karena apa yang telah dipelajari sejak kecil akan menentukan bagaimana seorang anak di masa depan maupun dalam memilih pergaulan.
Tiga tahapan penanaman norma dalam kelarga adalah :
1.      Norma agama, di mana penanaman akan akidah dan keimanan yang lebih ditonjolkan karena saat norma agama sudah di bangun maka yang lainpun akan mengikuti.
2.      Penanaman intelegensia di mana rumah menjadi sekolah pertama dalam mengembangkan intelegensi seorang anak.
3.      Penanaman kepribadian dan social
Tiga tahapan proses penanaman norma dalam keluarga ini harus dilaksanakan secara intensif dan menggunakan pendekatan-pendekatan kultural yang berbeda dari penerapan yang anak dapat dari luar baik sekolah maupun masyarakat sehingga tidak ada keterpaksaan dalam keluarga untuk mengikuti norma yang ada. Saat ia sudah terbiasa dengan pembentukan norma yang baik dalam keluarga maka saat ia ke masyarakat akan memilki filter dan dapat membedakan antara norma yang pantas dan tidak pantas ia lakukan.
Jadi, Keluarga sebagai unit terkecil dalam kelompok social sangat memiliki pengaruh besar dalam pembentukan norma anggota keluarga. Saat keluarga tidak lagi menjadi sekolah norma pertama bagi anggota-anggota yang ada maka saat berbaur di masyarakat akan terjadi ketimpangan norma dalam individu-individu yang ada. Individu tersebut akan lebih menerapkan norma yang ia dapat dari luar. Jika norma yang ia dapat baik mungkin tidak masalah akan tetapi jika norma yang ia terima adalah norma yang bertentangan dengan norma yang berlaku di masyarakat pada umumnya karena kelompok sosialnya yang buruk maka akan terjadi sebuh penyimpangan perilaku individu tersebut dalam masyarakat. Saat proses sosialisasi norma dalam keluarga itu baik maka individu tersebut akan memilki filter saat brinteraksi dengan lingkunga luar.

Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa:
1.      Interaksi adalah hubungan timbal balik antar individu, individu dengan kelompok, dan kelompok dengan kelompok lainnya. merupakan hubungan-hubungan sosial yang menyangkut hubungan antarindividu, individu (seseorang) dengan kelompok, dan kelompok dengan kelompok.
2.      Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan.
3.      Interaksi dan komunikasi dalam keluarga akan saling mempengaruhi satu dengan yang lain dan saling memberikan stimulus dan respons sehingga proses interaksi di dalam keluarga menjadikan seorang anak secara bertahap belajar mengembangkan kemampuan nalar serta imajinasinya.
4.      Komunitas sebagai sebuah kelompok sosial dari beberapa organisme yang berbagi lingkungan, umumnya memiliki ketertarikan dan habitat yang sama.
5.      Keluarga sebagai unit sosial terkecil dalam masyarakat merupakan lingkungan budaya pertama dan utama dalam rangka menanamkan norma dan mengembangkan berbagai kebiasaan dan perilaku yang dianggap penting bagi kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat.


Daftar Rujukan:
Baron, R. A dan Donn Byrne, 2003. Psikologi Sosial, Jakarta, Erlangga.
B. Horton, Paul, 1987. Sosiologi, Jakarta, Erlangga.
Hendropuspito. 1989. Sosiologi Sistematik, Yogyakara, Kanisius.
Huda, Miftahul, 2008. Interaksi Pendidikan 10 Cara Qur’an Mendidik Anak, Malang, UIN Malang Press.
P. Satiadarma, Monty, 2001. Persepsi Orang Tua Membentuk Perilaku Anak: Dampak Pygmalion di dalam Keluarga, Jakarta, Pustaka Populer Obor.
Sardiman, 2004. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta, Raja Grafindo Persada.
Soedjono, 1977. Pokok-pokok Sosiologi sebagai Penunjang Hukum, Bandung,  Alumni Offset.
Suwarna, 2005. Pengajaran Mikro: Pendekatan Praktis dalam Menyiapkan Pendidik Profesional, Yogyakarta, Tiara Wacana.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar