INTERAKSI
dan KOMUNITAS dalam KELUARGA
Siska Dwi
Agustin
Mahasiswi IAIN Tulungagung, Jln Mayor Sujadi Timur 46 Tulungagung,
Jurusan Pendidikan Agama
Islam 3F
Fakultas Tarbiyah dan Ilmu
Keguruan
Abstrak
Tujuan penelitian ini adalah untuk menguraikan
tentang interaksi dan komunitas dalam keluarga. Metode yang digunakan dalam penulisan
studi ini adalah kepustakaan. Data primer diperoleh dari pembacaan buku-buku mutakhir.
Kajian dilakukan pada bulan Desember 2015. Pada tahap awal, penulis berupaya mengumpulkan
materi dari berbagai teori tentang interaksi dan komunitas dalam keluarga,
kemudian disusun dalam bentuk naskah teks yang siap dibahas. Berdasarkan hasil
pengumpulan materi dan buku-buku, kemudian naskah kajian dilengkapi. Hasil akhirnya
naskah kajian difinalisasi dan siap dipublikasikan dalam sekala yang lebih luas.
Berdasarkan hasil naskah kajian disimpulkan
bahwa: (1) interaksi
adalah hubungan timbal balik antar individu, individu dengan kelompok, dan
kelompok dengan kelompok lainnya. merupakan hubungan-hubungan sosial yang
menyangkut hubungan antarindividu, individu (seseorang) dengan kelompok, dan
kelompok dengan kelompok. (2) Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat
yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal
di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan. (3) Interaksi
dan komunikasi dalam keluarga akan saling mempengaruhi satu dengan yang lain dan
saling memberikan stimulus dan respons sehingga proses interaksi di dalam
keluarga menjadikan seorang anak secara bertahap belajar mengembangkan
kemampuan nalar serta imajinasinya. (4) Komunitas
sebagai sebuah kelompok sosial dari beberapa organisme yang berbagi lingkungan,
umumnya memiliki ketertarikan dan habitat yang sama. (5) Keluarga sebagai unit sosial terkecil dalam masyarakat
merupakan lingkungan budaya pertama dan utama dalam rangka menanamkan norma dan
mengembangkan berbagai kebiasaan dan perilaku yang dianggap penting bagi
kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat.
Kata Kunci: Interaksi, Keluarga, Komunitas
Pendahuluan
Interaksi yaitu
hubungan timbal balik atau aksi dan reaksi diantara orang-orang, dengan
demikian interaksi ini adalah kontak dan komunikasi diantara sesama. Sedangkan
komunikasi merupakan aspek sentral dalam hubungan antar manusia (Monty P.
Satiadarma, 2001: 95).
Pencapaian tujuan pendidikan nasional tidak terlepas dari peran serta orang
tua atau keluarga. Keluarga sebagai bagian dari struktur sosial setiap
masyarakat adalah salah satu unsur sosial yang paling awal mendapat dampak dari
setiap perubahan sosial budaya.
Hubungan yang
terjadi di dalam keluarga biasanya dilakukan melalui suatu kontak sosial dan
komunikasi. Kedua hal ini merupakan syarat terjadinya suatu interaksi sosial.
Dengan kata lain, interaksi yang sesungguhnya dapat diperoleh melalui kontak
sosial dan komunikasi. Terjadinya interaksi dan komunikasi dalam keluarga akan
saling mempengaruhi satu dengan yang lain dan saling memberikan stimulus dan
respons. Dengan interaksi antara anak dengan orang tua, akan membentuk
gambaran-gambaran tertentu pada masing-masing pihak sebagai hasil dari
komunikasi.
Kelompok social
atau komunitas juga memilki sebuah peranan dalam pembentukan norma dalam masyarakat.
Dalam kelompok akan terjadi interaksi di mana saat salah satu anggota kelompok
melakukan kesalahan maka anggota kelompok yang lainnya akan menilai
baik-buruknya perilku tersebut.
Keluarga sebagai salah satu jenis kelompok
social atau disebut dengan primary group merupakan salah satu kelompok di mana
norma-norma itu dibentuk. Dengan adanya pembentukan norma dalam keluarga maka
akan membentuk pula norma bagi anggota kelompok yang akan ia aplikasikan ke
dalam masyarakat.Sehingga dalam keluarga akan terjadi sebuah interaksi dimana
ada norma yang mengatur dalam keluarga. Baik itu terhadapa ayah, ibu dan
anak-anak. Interaksi yang intens dan dekat ini akhirnya bisa membentuk
kepribadian dari masing-masing keluarga.
Metode Penulisan
Metode yang digunakan dalam penulisan studi ini adalah kepustakaan. Data
primer diperoleh dari pembacaan buku-buku mutakhir. Kajian dilakukan pada bulan
Desember 2015. Pada tahap awal, penulis berupaya mengumpulkan materi dari berbagai
teori tentang interaksi dan komunitas dalam keluarga, kemudian disusun dalam bentuk
naskah teks yang siap dibahas. Berdasarkan hasil pengumpulan materi dan
buku-buku, kemudian naskah kajian diperbaiki. Hasil akhirnya naskah kajian difinalisasi
dan siap dipublikasikan dalam sekala yang lebih luas.
Hasil Kajian dan Pembahasan
Pengertian
Interaksi
Interaksi yaitu
hubungan timbal balik atau aksi dan reaksi diantara orang-orang, dengan
demikian interaksi ini adalah adanya kontak dan komunikasi diantara sesama
(Miftahul Huda, 2008: 38). Kecenderungan manusia untuk berhubungan dengan yang
lain melahirkan komunikasi dua arah baik melalui bahasa dan tindakan atau
perbuatan karena ada aksi, maka reaksipun terjadi dan inilah unsur yang
membentuk interaksi.
Interaksi
juga diartikan yaitu pengaruh timbal balik atau saling mempengaruhi satu sama
lain, yang minimal terjadi antara dua pihak (Suwarna, 2005: 93). Dalam bukunya
Sardirman mengemukakan: Interaksi akan selalu terkait dengan istilah komunikasi
atau hubungan. Dalam proses komunikasi, dikenal adanya unsur komunikan dan
komunikator. Hubungan antara komunikator dengan komunikan biasanya karena
menginteraksikan sesuatu yang dikenal dengan istilah pesan (message).
Kemudian untuk menyampaikan atau mengontakkan pesan itu diperlukan adanya media
atau saluran (channel). Jadi unsur-unsur yang terlibat dalam komunikasi
itu adalah: komunikator, komunikan, pesan dan saluran atau media. Begitu juga
hubungan antara manusia yang lain, empat unsur untuk terjadinya proses
komunikasi itu akan selalu ada (Sardirman, 2004: 7)
Syarat-Syarat Terjadinya Interaksi:
1.
Kontak sosial
Kontak sosial
tidak hanya dengan bersentuhan fisik, seperti berkomunikasi secara
langsung/tatap muka, berdiskusi, bermain dan lain sebagainya.
2.
Komunikasi
sosial
Dengan
perkembangan teknologi manusia dapat berhubungan tanpa bersentuhan, tanpa
bertemu langsung. Misalnya melalui telepon, telegrap dan lain-lain.
Bisa
disimpulkan bahwa interaksi adalah
hubungan timbal balik antar individu, individu dengan kelompok, dan kelompok
dengan kelompok lainnya. merupakan hubungan-hubungan sosial yang
menyangkut hubungan antarindividu, individu (seseorang) dengan kelompok, dan
kelompok dengan kelompok.
Hakikat
Keluarga
Keluarga
(bahasa
Sanskerta: "kulawarga";
"ras" dan "warga" yang berarti "anggota") adalah
lingkungan yang terdapat beberapa orang yang masih memiliki hubungan darah. Keluarga
adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan
beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap
dalam keadaan saling ketergantungan.
Ada beberapa
jenis keluarga, yakni:
2. Keluarga konjugal, yang
terdiri dari pasangan dewasa (ibu dan ayah) dan anak mereka yang terdapat
interaksi dengan kerabat dari salah satu atau dua pihak orang tua.
3. Keluarga luas, yang
ditarik atas dasar garis keturunan di atas keluarga aslinya. Keluarga luas
meliputi hubungan antara paman, bibi, keluarga kakek, dan keluarga nenek.
Keluarga
inti atau disebut juga dengan keluarga batih ialah yang terdiri atas ayah, ibu,
dan anak. Keluarga inti merupakan bagian dari lembaga sosial yang ada pada
masyarakat. Bagi masyarakat primitif yang mata pencahariaannya adalah berburu
dan bertani, keluarga sudah merupakan struktur yang cukup memadai untuk
menangani produksi dan konsumsi. Keluarga merupakan lembaga sosial dasar dari
mana semua lembaga lainnya berkembang karena kebudayaan yang makin kompleks
menjadikan lembaga-lembaga itu penting (Paul B.
Horton, 1987: 266)
Berbagai peranan
yang terdapat di dalam keluarga adalah sebagai berikut :
1.
Peranan Ayah :
Ayah sebagai suami dari istri dan anak-anak, berperan sebagai pencari nafkah,
pendidik, pelindung dan pemberi rasa aman, sebagai kepala keluarga, sebagai
anggota dari kelompok sosialnya serta sebagai anggota dari kelompok sosialnya
serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya.
2.
Peranan Ibu :
Sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya, ibu mempunyai peranan untuk mengurus
rumah tangga, sebagai pengasuh dan pendidik anak-anaknya, pelindung dan sebagai
salah satu kelompok dari peranan sosialnya serta sebagai anggota masyarakat
dari lingkungannya, disamping itu juga ibu dapat berperan sebagai pencari
nafkah tambahan dalam keluarganya.
3.
Peran Anak :
Anak-anak melaksanakan peranan psikosial sesuai dengan tingkat perkembangannya
baik fisik, mental, sosial, dan spiritual.
Interaksi
dalam Keluarga
Di
dalam keluarga anak-anak mulai menerima pendidikan yang pertama dan paling
utama. Pendidikan yang diterima oleh anak mulai dari pendidikan agama, cara
bergaul, dan hubungan interaksi dengan lingkungan. Keluarga merupakan
lingkungan sosial yang pertama bagi anak. Dalam lingkungan keluargalah anak
mulai mengadakan persepsi, baik mengenai hal-hal yang ada di luar dirinya,
maupun mengenai dirinya sendiri.
Keluarga adalah sumber kepribadian seseorang.
Di dalam keluarga dapat ditemukan berbagai elemen dasar yang membentuk
kepribadian seseorang. Aspek genetika diperoleh seseorang dari dalam
keluarga. Demikian pula aspek bawaan dan belajar dipengaruhi oleh
proses yang berlangsung dan sistem yang berlaku di dalam keluarga. Kondisi ibu
pada saat mengandung akan mempengaruhi janin dan selanjutnya akan berpengaruh
terhadap pembentukan kepribadian seorang anak. Sistem pembagian peran dan tugas
di dalam keluarga juga akan memberi dampak besar pada proses perkembangan
kepribadian seorang anak.
Tak dapat disangkal bahwa keluarga
merupakan tempat pertama bagi anak untuk belajar berinteraksi sosial.
Melalui keluargalah anak belajar berespons terhadap masyarakat dan beradaptasi
di tengah kehidupan masyarakatnya yang lebih luas kelak. Melalui proses
interaksi di dalam keluarga, seorang anak secara bertahap belajar mengembangkan
kemampuan nalar serta imajinasinya. Hal ini selanjutnya akan mempengaruhi
kemampuan kognitif anak dalam menghadapi kehidupan pada tahapan-tahapan
perkembangan berikutnya. Melalui pemahaman nilai-nilai kehidupan yang
ditanamkan oleh anggota keluarga, kemampuan persepsi seorang anak akan
diarahkan khusus ke dalam bidang-bidang tertentu. Perhatian mereka terhadap
hal-hal yang ada di sekeklilingnya banyak dipengaruhi oleh nilai-nilai yang
mereka anut, dan keluargalah yang menanamkan nilai-nilai tersebut (Monty P.
Satiadarma, 2001: 121-122).
Terjadinya
interaksi dan komunikasi dalam keluarga akan saling mempengaruhi satu dengan
yang lain dan saling memberikan stimulus dan respons. Dengan interaksi antara
anak dengan orang tua, akan membentuk gambaran-gambaran tertentu pada
masing-masing pihak sebagai hasil dari komunikasi. Anak akan mempunyai gambaran
tertentu mengenai orang tuanya. Dengan adanya gambaran-gambaran tertentu
tersebut sebagai hasil persepsinya melalui komunikasi, maka akan terbentuk juga
sikap-sikap tertentu dari masing-masing pihak. Bagi orang tua anak sebagai
objek sikap, sebaliknya bagi anak orang tua sebagai objek sikap. Pada anak akan
terbentuk sikap tertentu terhadap orang tuanya, sebaliknya pada orang tua akan
terbentuk sikap tertentu terhadap anaknya.
Anak
akan memiliki sikap yang berbeda terhadap orang tuanya. Sebagian anak ada yang
mempersepsikan orang tuanya adalah segala-galanya. Tak heran mereka meniru
semua perilaku orang tuanya. Namun, sebagian lagi ada yang mempersepsikan orang
tuanya sangat kejam, sadis, dan tidak mau mengerti dengan kehendak anak. Dari
dua sisi sikap yang berbeda tersebut (positif dan negatif) dapat ditarik suatu
kesimpulan bahwa sikap yang dimiliki oleh para anak akibat dari proses
interaksi yang terjadi di dalam keluarga. Bagi keluarga yang mampu mengadakan
komunikasi yang baik kepada anak tentu akan memberikan perhatian dan kasih
sayang kepada anak, sebaliknya bagi orang tua yang super sibuk dan masa bodoh
terhadap perkembangan anak tentu jarang terjadi proses interaksi atau komunikasi
dalam keluarga. Dampaknya, anak yang dibesarkan dalam lingkungan orang tua yang
tidak komunikatif kemungkinan besar akan mencari bentuk perhatian ke lingkungan
lain, misalnyanya: di lingkungan sekolah atau lingkungan teman sebayanya.
Bentuk-Bentuk Interaksi dalam Keluarga:
1.
Interaksi orang
tua yaitu suami-istri
Interaksi
orang tua yaitu suami istri disini lebih menekankan pada peran penting suami
istri sebagai penentu suasana dalam keluarga. Keluarga dengan anggota keluarga
(ayah, ibu, anak).
2.
Interaksi orang
tua dan anak
Interaksi
yang terjalin antara orang tua dan anak dalam satu ikatan keluarga di mana
orang tua bertanggung jawab dalam mendidik anaknya. Hubungan yang terjalin
antara orang tua dan anak di sini bersifat dua arah, disertai dengan pemahaman
bersama terhadap sesuatu hal di mana antara orang tua dan anak berhak
menyampaikan pendapat, pikiran, informasi atau nasehat. Hubungan interaksi yang
efektif ini terjalin karena adanya rasa keterbukaan, empati, dukungan, perasaan
positif, kesamaan antara orang tua dan anak.
3.
Interaksi ayah
dan anak
Interaksi
disini mengarah pada perlindungan ayah terhadap anak. Peran ayah dalam memberi
informasi dan mengarahkan pada hal pengambilan keputusan pada anak yang peran
komunikasinya cenderung meminta dan menerima. Misal, memilih sekolah. Interaksi
ibu dan anak Lebih bersifat pengasuhan kecenderungan anak untuk berhubungan
dengan ibu jika anak merasa kurang sehat, sedih, maka peran ibu lebih menonjol.
4.
Interaksi anak
dan anak yang lainnya
Interaski
ini terjadi antara anak 1 dengan anak yang lain. Dimana anak yang lebih tua
lebih berperan sebagai pembimbing pada anak yang masih muda. Biasanya
dipengaruhi oleh tingkatan usia atau faktor kelahiran.
Usaha
orang tua dalam membina anak dan membimbing anak baik jiwa maupun raganya sejak
lahir sampai dewasa (18 tahun). Selain itu, yang dimaksud dengan pola
asuh adalah kegiatan kompleks yang meliputi banyak perilaku spesifik yang
bekerja sendiri atau bersama yang memiliki dampak pada anak.
Keterkaitan
antara interaksi dengan pengasuhan anak dalam keluarga terlihat sangat jelas,
karena didalam pengasuhan orang tua sering kali mengajak anaknya untuk
berkomunikasi, bercengkrama, bersosialaisa dan lain sebagainya. Untuk mejalin
hubungan yang baik dengan anak-anaknya orang tua harus mampu meluangkan waktu
dengan anak mereka. Karena dengan adanya interaksi anak dan orang tua akan
menjadi hubungan yang lebih dekat dan harmonis. Interaksi terjadi karena adanya
reaksi, dan adanya reaksi dari orang tua maka anak akan melakukan aksi.
Interaksi
pengasuhan pada anak yaitu pola hubungan timbal-balik antara pengasuh/orang tua
dan anak yang di asuh. Interaksi atau perilaku seorang anak sangat dipengaruhi
oleh pola pengasuhan orang tua, jika pengasuhan orang tua baik maka anak akan
menjadi individu yang baik begitupun sebaliknya jika orang tua melakukan
pengasuhan yang kurang baik maka anak pun akan tumbuh menjadi individu yang
kurang baik.
Tanpa
adanya interaksi orang tua dengan anak akan menimbulkan kejenuhan dan
kejangguhan antara anak dengan orang tuanya, kurangnya komunikasi antara
mereka. Namun disetiap keluarga pastilah terjalin komunikasi antara anak dan
orang tua dan anggota lainnya yang saling membutuhkan satu sama lain yang
sering melakukan percakapan dan lain sebagainya.
Komunitas dan
Kelompok Sosial
Kata
Komunitas berasal dari bahasa latin communitas yang berasal dari kata dasar
communis yang artinya masyarakat, publik atau banyak orang. Wikipedia bahasa
Indonesai menjelaskan Pengertian Komunitas sebagai sebuah kelompok sosial dari
beberapa organisme yang berbagi lingkungan, umumnya memiliki ketertarikan dan
habitat yang sama. Dalam komunitas manusia, individu-individu di dalamnya dapat
memiliki maksud, kepercayaan, sumber daya, preferensi, kebutuhan, risiko dan
sejumlah kondisi lain yang serupa.
Secara sosiologis pengertian kelompok sosial adalah suatu kumpulan
orang-orang yang mempunyai hubungan dan saling berinteraksi satu sama lain dan
dapat mengakibatkan tumbuhnya perasaan bersama. Disamping itu terdapat beberapa
definisi dari para ahli mengenai kelompok sosial.
Menurut Josep S Roucek dan Roland S Warren
kelompok sosial adalah suatu kelompok yang meliputi dua atau lebih manusia,
yang diantara mereka terdapat beberapa pola interaksi yang dapat dipahami oleh
para anggotanya atau orang lain secara keseluruhan.
Ciri-Ciri
Utama Kelompok Sosial (Hendropuspito:
1989):
1. Terdapat
dorongan atau motif yang sama pada individu-individu yang menyebabakan
terjadinya interaksi.
2. Terdapat
akibat-akibat interaksi yang berlainan terhadap individu-indvidu.
3. Pembentukan
dan penegasan struktur atau organisasi kelompok yang jelas dan terdiri atas
peranan-peranan dan kedudukan hierarkis yang lambat laun berkembang dengan
sendirinya.
4. Terjadinya
penegasan dan pengaruh norma-norma pedomanyang mengatur interaksi dan kegiatan
anggota kelompok dalam merealisasikan tujuan kelompok.
Peranan Keluarga Sebagai Unit Terkecil Kelompok Social Dalam Pembentukan Norma
Keluarga sebagai unit sosial terkecil dalam masyarakat merupakan lingkungan
budaya pertama dan utama dalam rangka menanamkan norma dan mengembangkan
berbagai kebiasaan dan perilaku yang dianggap penting bagi kehidupan pribadi,
keluarga dan masyarakat.
Pengaruh norma dalam keluarga ini terutama sangat
berpengaruh terhadap seorang anak. Hal ini dikarenakan Sejak lahir, seorang anak
telah mengalami proses sosialisasi.
Artinya, sejak lahir seseorang
melakukan proses belajar mengenai bagaimana bertindak dan berperilaku sesuai
dengan nilai dan norma norma sosial yang berlaku di dalam masyarakat melalui
refleksi terhadap orang lain. Dengan demikian, nilai dan norma tersebut
telah menjadi bagian dari dirinya. Ia akan selalu berperilaku atau bertindak
sesuai dengan nilai dan norma norma tersebut. Selain itu nilai dan norma sosial
juga menjadi bagaimana pola sosialisasi akan berlangsung dalam diri seseorang.
Pada hakikatnya sosialisasi primer dalam keluarga merupakan langkah penting bagi anak dalam beradaptasi dan mempelajari nilai dan norma dalam
masyarakat, karena apa yang telah dipelajari sejak kecil akan menentukan
bagaimana seorang anak di masa depan maupun dalam memilih pergaulan.
Tiga tahapan penanaman norma dalam kelarga adalah :
1.
Norma agama, di mana penanaman akan akidah dan keimanan
yang lebih ditonjolkan karena saat norma agama sudah di bangun maka yang
lainpun akan mengikuti.
2.
Penanaman intelegensia di mana rumah menjadi sekolah
pertama dalam mengembangkan intelegensi seorang anak.
3.
Penanaman
kepribadian dan social
Tiga tahapan proses
penanaman norma dalam keluarga ini harus dilaksanakan secara intensif dan
menggunakan pendekatan-pendekatan kultural yang berbeda dari penerapan yang
anak dapat dari luar baik sekolah maupun masyarakat sehingga tidak ada
keterpaksaan dalam keluarga untuk mengikuti norma yang ada. Saat ia sudah terbiasa
dengan pembentukan norma yang baik dalam keluarga maka saat ia ke masyarakat
akan memilki filter dan dapat membedakan antara norma yang pantas dan tidak
pantas ia lakukan.
Jadi, Keluarga sebagai unit terkecil dalam kelompok
social sangat memiliki pengaruh besar dalam pembentukan norma anggota keluarga.
Saat keluarga tidak lagi menjadi sekolah norma pertama bagi anggota-anggota
yang ada maka saat berbaur di masyarakat akan terjadi ketimpangan norma dalam
individu-individu yang ada. Individu tersebut akan lebih menerapkan norma yang ia
dapat dari luar. Jika norma yang ia dapat baik mungkin tidak masalah akan tetapi jika norma yang ia terima adalah norma
yang bertentangan dengan norma yang berlaku di masyarakat pada umumnya karena
kelompok sosialnya yang buruk maka akan terjadi sebuh penyimpangan perilaku individu tersebut dalam masyarakat.
Saat proses sosialisasi norma dalam keluarga itu baik maka individu tersebut
akan memilki filter saat brinteraksi dengan lingkunga luar.
Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa:
1.
Interaksi adalah hubungan timbal balik antar individu, individu
dengan kelompok, dan kelompok dengan kelompok lainnya. merupakan
hubungan-hubungan sosial yang menyangkut hubungan antarindividu, individu
(seseorang) dengan kelompok, dan kelompok dengan kelompok.
2.
Keluarga
adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan
beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap
dalam keadaan saling ketergantungan.
3.
Interaksi dan
komunikasi dalam keluarga akan saling mempengaruhi satu dengan yang lain dan
saling memberikan stimulus dan respons sehingga proses interaksi di dalam
keluarga menjadikan seorang anak secara bertahap belajar mengembangkan
kemampuan nalar serta imajinasinya.
4.
Komunitas
sebagai sebuah kelompok sosial dari beberapa organisme yang berbagi lingkungan,
umumnya memiliki ketertarikan dan habitat yang sama.
5.
Keluarga sebagai unit sosial
terkecil dalam masyarakat merupakan lingkungan budaya pertama dan utama dalam
rangka menanamkan norma dan mengembangkan berbagai kebiasaan dan perilaku yang
dianggap penting bagi kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat.
Daftar Rujukan:
Baron, R. A dan
Donn Byrne, 2003. Psikologi Sosial, Jakarta, Erlangga.
B. Horton, Paul, 1987. Sosiologi,
Jakarta, Erlangga.
Hendropuspito. 1989. Sosiologi Sistematik, Yogyakara,
Kanisius.
Huda, Miftahul, 2008. Interaksi Pendidikan 10 Cara Qur’an
Mendidik Anak, Malang, UIN Malang Press.
P. Satiadarma, Monty, 2001. Persepsi Orang Tua Membentuk
Perilaku Anak: Dampak Pygmalion di dalam Keluarga, Jakarta, Pustaka Populer
Obor.
Sardiman, 2004. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta,
Raja Grafindo Persada.
Soedjono, 1977. Pokok-pokok Sosiologi sebagai Penunjang Hukum, Bandung,
Alumni Offset.
Suwarna, 2005. Pengajaran Mikro: Pendekatan Praktis dalam
Menyiapkan Pendidik Profesional, Yogyakarta, Tiara Wacana.